makalah IKM

MAKALAH ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

ADVOKASI, KEMITRAAN DAN PEMBERDAYAAN  MASYARAKAT UNTUK  MENDUKUNG UPAYA-UPAYA  KESEHATAN IBU DAN ANAK

 

 

 

       DISUSUN OLEH:

NOVI MEGA ASTUTI

    11211072

   II.A

 

 

DIII.KEBIDANAN

DOSEN : ETY APRIANTI, S.KM

 

 

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

PRODI DIII KEBIDANAN

TAHUN AJARAN 2013

KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNyalah sehingga penulisan makalah ini yang berjudul Advokasi, Kemitraan dan Pemberdayaan Masyarakat Untuk Mendukung Upaya-Upaya Kesehatan Ibu dan Anakdapat terselesaikan dengan baik tepat pada waktunya. Apapun yang kami sajikan semoga selalu bermanfaat bagi para pembacanya.

Kami  juga mengucapkan terima kasih bagi orang-orang yang telah berjasa membantu  dalam pembuatan makalah ini. Karna berkat merekalah dapat terciptanya makalah ini, maka kami terima kasih kepada :

 

  1. Dosen pemimbing mata kuliah Ilmu Kesehatan Masyarakatan Ibu Ety Apriyanti, S.KM  yang telah memimbing kami dalam mata kuliah ini.
  2. Orang tua yang telah memberikan fasilitas kepada kami sehingga mempermudah dalam pembuatan makalah ini.

Kami  menyadari bahwa laporan  ini masih memiliki banyak kekurangan baik isi maupun teknik penulisan. untuk itu kritik dan saran sangat diperlukan untuk perbaikan.

 

 

 

 

 

Padang, 24 April 2013

 

 

               Penulis

DAFTAR ISI

 

 

Kata Pengantar……………………………………………………………….…………………i

Daftar Isi…………………………………………………………………………………..…..ii

 

 

BAB I  PENDAHULUAN…………………………………………………………….……..1

  1. Latar Belakang………………………………………………….…………..………1

 

 

BAB II PEMBAHASAN ………………….………………………………………………….

A. Advokasi  ……………………….…………..……………………………………………….3

B. Kemitraan  ………………………………………………………………………………………………5

C  Pemberdayaan Masyarakat  atau Empowerment …….……………………….….8

D. Pemeliharaan Kesehatan ada Ibu………………………………………………………………14

E. Pelayanan Kesehatan Pada Anak………………………………………………………………26

 

 

BAB III PENUTUP………………………………………….………………………………31

            A. Simpulan…………………………………………………………………………..31

            B. Saran……………………………………………………………………………….31

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

BAB I

 PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Kementerian Kesehatan RI telah menetapkan Visi Pembangunan Kesehatan tahun 2010-2014 adalah “Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan”.

    Dengan Misi :

1)    Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani,

2)    Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan,

3)    Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan,

4)    Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.

 

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014 telah ditetapkan tujuan pembangunan kesehatan pada tahun 2014 adalah meningkatnya Umur Harapan Hidup (UHH) menjadi 72 tahun, menurun­nya Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi 24 per 1000 kelahiran hidup, menurun­nya Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup, dan menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita menjadi < 15%.

 

Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan salah satu upaya Ke­menterian Kesehatan RI guna mencapai tujuan pembangunan kesehatan mela­lui RPJMN 2010-2014 dan mendukung pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015.

 

 

 

Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak sangat erat kaitannya dengan upaya pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan di fasilitas kese­hatan, upaya peningkatan status gizi ibu, bayi dan balita, dan upaya peningkatan cakupan imunisasi bagi ibu hamil dan bayi.

 

Peran promosi kesehatan dalam meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sangatlah penting, melalui upaya promosi kesehatan yang berkesinambungan akan tumbuh kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat akan penting­nya perilaku sehat seperti pemeriksaan kehamilan secara rutin, melahirkan di fasilitas kesehatan, ibu mengkonsumsi makanan yang bergizi, ibu memberikan ASI kepada bayinya, dan ibu membawa bayinya untuk diimunisasi.

Saya menyambut baik inisiasi penyusunan dan penerbitan buku Rencana Opera­sional Promosi Kesehatan Ibu dan Anak ini, yang dapat dijadikan acuan oleh setiap pengelola program terkait dalam mempromosikan kegiatan masing-masing terkait program Kesehatan Ibu dan Anak.

Kepada semua pihak yang terkait dalam pelaksanaan Promosi Kesehatan Ibu dan Anak diharapkan dapat berperan optimal sesuai tugas dan fungsinya masing-masing agar tujuan peningkatan status kesehatan ibu dan anak dapat terwujud.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. ADVOKASI

 

  1. 1.    Defenisi Advokasi

 

Advokasi atau advocacy  adalah kegiatan memberikan bantuan kepada masyarakat dengan membuat keputusan ( Decision makers ) dan penentu kebijakan ( Policy makers ) dalam bidang kesehatan maupun sektor lain diluar kesehatan yang mempunyai pengaruh terhadap masyarakat.   Dengan demikian, para pembuat keputusan akan mengadakan atau mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam bentuk peraturan, undang-undang, instruksi yang diharapkan menguntungkan bagi kesehatan masyarakat umum. Srategi ini akan berhasil jika sasarannya tepat dan sasaran advokasi ini adalah para pejabat eksekutif dan legislatif, para pejabat pemerintah, swasta, pengusaha, partai politik dan organisasi atau LSM dari tingkat pusat sampai daerah. Bentuk dari advokasi berupa lobbying melalui pendekatan atau pembicaraan-pembicaraan formal atau informal terhadap para pembuat keputusan, penyajian isu-isu atau masalah-masalah kesehatan yang mempengarui kesehatan masyarakat setempat, dan seminar-seminar kesehatan. (Wahid Iqbal Mubarak, Nurul Chayantin2009).

Advokasi Kesehatan, yaitu pendekatan kepada para pimpinan atau pengambil kebijakan agar dapat memberikan dukungan masksimal, kemudahan perlindungan pada upaya kesehatan. Menurut para ahli retorika Foss dan Foss et. All 1980, Toulmin 1981 (Fatma Saleh 2004), advokasi suatu upaya persuasif yang mencakup kegiatan-kegiatan penyadaran, rasionalisasi, argumentasi dan rekomendasi tindak lanjut mngenai sesuatu.

Organisasi non pemerintah (Ornop) mendefensisikan Advokasi sebagai upaya penyadaran kelompok masyarakat marjinal yang sering dilanggar hak-haknya (hukum dan azasi). Yang dilakukan dengan kampanye guna membentuk opini public dan pendidikan massa lewat aksi kelas (class action) atau unjuk rasa.

 

  1. 2.    Tujuan Advokasi

Tujuan umum advokasi adalah untuk mendorong dan memperkuat   suatu perubahan dalam kebijakan, program atau legislasi, dengan memperkuat basis dukungan sebanyak mungkin.

 

  1. 3.    Fungsi Advokasi

Advokasi berfungsi untuk mempromosikan suatu perubahan dalam kebijakan program atau peraturan dan mendapatkan dukungan dari pihak-pihak lain.

4. Persyaratan untuk Advokasi

  1. Dipercaya (Credible), dimana program yang ditwarkan harus dapat meyakinkan para penentu kebijakan atau pembuat keputusan , oleh karena itu harus didukung akurasi data dan masalah.
  2. Layak (Feasible), program yang ditawarkan harus mampu dilaksanakan secara tejhnik prolitik maupun sosial.
  3. Memenuhi Kebutuhan Masyarakat (Relevant)
  4. Penting dan mendesak (Urgent), program yang ditawarkan harus mempunyai prioritas tinggi.

5.  Pendekatan kunci Advokasi

  1. Melibatkan para pemimpin atau pengambil keputusan
  2. Menjalin kemitraan
  3. Memobilisasi kelompok peduli.

 

 

 

 

  1. KEMITRAAN

1. Defenisi Kemitraan

Di Indonesia istilah Kemitraan atau partnership masih relative baru, namun demikian prakteknya di masyarakat sebenarnya sudah terjadi sejak zaman dahulu. Sejak nenek moyang kita telah mengenal istilah gotong royong yang sebenarnya esensinya kemitraan.

Robert Davies, ketua eksekutif  “The Prince of Wales Bussines Leader Forum” (NS Hasrat jaya Ziliwu, 2007) merumuskan, “Partnership is a formal cross sector relationship between individuals, groups or organization who :

  1. Work together to fulfil an obligation or undertake a specific task
  2. Agree in advance what to commint and what to expect
  3. Review the relationship regulary and revise their agreement as  necessary, and
  4. Share both risk and the benefits

Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kemitraan adalah suatu kerjasama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu. Dalam kerjasama tersebut ada kesepakatan tentang komitmen dan harapan masing-masing, tentang peninjauan kembali terhadap kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat dan saling berbagi baik dalam resiko maupun keuntungan yang diperoleh.

Dari defenisi ini terdapat tiga kata kunci dalam kemitraan, yaitu:

  1. Kerjasama antar kelompok, organisasi dan Individu
  2. Bersama-sama mencapai tujuan tertentu (yang disepakati bersama)
  3. Saling menanggung resiko dan keuntungan.

Pentingnya kemitraan atau partnership ini mulai digencarkan oleh WHO pada konfrensi internasional promosi kesehatan yang keempat di Jakarta pada tahun 1997. Sehubungan dengan itu perlu dikembangkan upaya kerjasama yang saling memberikan manfaat. Hubungan kerjasama tersebut akan lebih efektif dan efisien apabila juga didasari dengan kesetaraan.

Mengingat kemitraan adalah bentuk kerjasama atau aliansi, maka setiap pihak yang terlibat didalamnya harus ada kerelaan diri untuk bekerjasama dan melepaskan kepentingan masing-masing kemudian membangun kepentingan bersama.

Oleh karena itu membangun kemitraan harus didasarkan pada hal-hal berikut:

a)    Kesamaan perhatian (Commont interest) atau kepentingan

b)   Saling mempercayai dan menghormati

c)    Tujuan yang jelas dan terukur

d)   Kesediaan berkorban baik waktu, tenaga maupun sumber daya yang lain.

2.  Prinsip, Landasan dan Langkah Dalam Pengembangan Kemitraan

Dalam membangun Kemitraan ada tiga  prinsip kunci yang perlu dipahami oleh masing-masing anggota kemitraan yaitu :

a)    Equity atau Persamaan

Individu, organisasi atau Individu yang telah bersedia menjalin kemitraan harus merasa “duduk sama rendah berdiri sama tinggi”. Oleh sebab itu didalam vorum kemitraan asas demokrasi harus diutamakan, tidak boleh satu anggota memaksakan kehendak kepada yang lain karena merasa lebih tinggi dan tidak ada dominasi terhadap yang lain.

b)   Transparancy atau Keterbukaan

Keterbukaan maksudnya adalah apa yang menjadi kekuatan atau kelebihan atau apa yang menjadi kekurangan atau kelemahan masing-masing anggota harus diketahui oleh anggota lainnya.Demikian pula berbagai sumber daya yang dimiliki oleh anggota yang Satu harus diketahui oleh anggota yang lain. Bukan untuk menyombongkan yang satu tehadap yang lainnya, tetapi lebih untuk saling memahami satu dengan yang lain sehingga tidak ada rasa saling mencurigai.Dengan saling keterbukaan ini akan menimbulkan rasa saling melengkapi dan saling membantu diantara anggota.

c)    Mutual Benefit atau Saling Menguntungkan

Menguntungkan disini bukan selalu diartikan dengan materi ataupun uang tetapi lebih kepada non materi. Saling menguntungkan disini lebih dilihat dari kebersamaan atau sinergitas dalam mencapai tujuan bersama.

Tujuh landasan yaitu :

  1. Saling memahami kedudukan, tugas dan fungsi (kaitan dengan struktur)
  2. Saling memahami kemampuan masing-masing (kapasitas unit atau organisasi
  3. Saling menghubungi secara proaktif (linkage)
  4. Saling mendekati, bukan hanya secara fisik tetapi juga pikiran dan perasaan (empati, proximity)
  5. Saling terbuka, dalam arti kesediaan untuk dibantu dan membantu (opennes)
  6. Saling mendorong  atau mendukung kegiatan (synergy)
  7. saling menghargai kenyataan masing-masing (reward).

Enam langkah  pengembangan :

1. Penjajagan atau persiapan

2. Penyamaan persepsi

3. Pengaturan peran

4. Komunikasi intensif

5. Melakukan kegiatan

6. Melakukan pemantauan & penilaian.

Peran Dinas Kesehatan dalam Pengembangan Kemitraan di Bidang Kesehatan.

Beberapa alternatif peran yang dapat dilakukan, sesuai keadaan, masalah dan potensi setempat adalah :

a)    Initiator: Memprakarsai kemitraan dalam rangka sosialisasi dan operasionalisasi Indonesia Sehat.

b)    Motor atau dinamisator: Sebagai penggerak kemitraan, melalui pertemuan, kegiatan bersama, dll.

c)     Fasilitator: Memfasiltasi, memberi kemudahan sehingga kegiatan  kemitraan dapat berjalan lancar.

d)     Anggota aktif: Berperan sebagai anggota kemitraan yang aktif.

e)     Peserta kreatif: Sebagai peserta kegiatan kemitraan yang kreatif.

f)     Pemasok input teknis: Memberi masukan teknis (program kesehatan).

g)    Dukungan sumber daya: Memberi dukungan sumber daya sesuai keadaan,    masalah dan potensi yang ada.

 

C. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT  ATAU EMPOWERMENT

  1. 1.    Defenisi Pemberdayaan

Secara konseptual, pemberdayaan ataupemberkuasaan atau empowerment, berasal dari kata “power” (kekuasaan atau keberdayaan). Karenanya ide utama pemberdayaan bersentuhan dengan konsep mengenai kekuasaan. Kekuasaan seringkali dikaitkan dengan kemampuan kita untuk membuat orang lain  melakukan apa yang kita inginkan, terlepas dari keinginan dan minat mereka. Ilmu sosial tradisional menekankan bahwa kekuasaan berkaitan dengan  pengaruh dan kontrol. Pengertian ini mengasumsikan bahwa kekuasaan sebagai suatu yang tidak berubah atau tidak dapat dirubah. Kekuasaan tidak vakum dan terisolasi. Kekuasaan senantiasa hadir dalam konteks relasi sosial antara manusia.  Kekuasaan tercipta dalam relasi sosial. Karena itu, kekuasaan dan hubungan kekuasaaan dapat berubah. Dengan pemahaman kekuasaan seperti ini, pemberdayaan sebagai sebuah proses perubahan kemudian memiliki konsep yang bermakna.

Dengan kata lain, kemungkinan terjadinya proses pemberdayaan sangat tergantung pada dua hal :

  1. Bahwa kekuasaan dapat berubah, Jika kekuasaan tidak dapat berubah pemberdayaan tidak mungkin terjadi dengan cara apapun.
  2. Bahwa kekuasaan dapat diperluas. Konsep ini menekankan pada pengertian kekuasaan yang tidak statis, melainkan dinamis.

Pemberdayaan masyarakat (community empowerment) kini telah dijadikan sebuah strategi dalam membawa masyarakat dalam kehidupan sejahtera secara adil dan merata. Strategi ini cukup efektif memandirikan masyarakat pada berbagai bidang, sehingga dibutuhkan perhatian yang memadai. Oleh kerena itu, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Achmad Suyudi mengingstruksikan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menggerakkan masyarakat melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit.

Dalam bidang kesehatan, Pelaksanaan Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu upaya meningkatkan kemampuan masyarakat guna mengangkat harkat hidup, martabat dan derajat kesejahteraan, dan meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyrakat agar dapat mengembangkan diri dan memperkuat sumber daya yang dimiliki untuk mencapai kemajuan.

Dalam pelaksanaan program-program pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan, perlu diperhatikan karakteristik masyarakat setempat yang dapat dikelompokkan sebagai nerikut :

 

  1. Masyarakat Pembina (Carring community)

Yaitu masyarakat yang peduli keseatan, misalnya: LSM kesehatan, Organisasi Profesi yang bergerak dibidang kesehatan.

  1. Masyarakat Setara (Coping Community)

Yaitu masyarakat yang karena kondisinya kurang memadai sehinnga tidak dapat memelihara kesehatannya. Misalnya seorang ibu sadar akan pentingnya pemeriksaan diri, tetapi karena keterbatasan ekonomi dan tidak adanya transportasi sehingga si ibu tidak pergi kesarana pelayanan kesehatan.

  1. Masyarakat Pemuda ( Crisis Response Community)

Yaitu masyarakat yang tidak tahu akan pentingnya kesehatan dan belum didukung oleh fasilitas yang tersedia. Misalnya, masyarakat yang berdomisili di lingkungan kumuh dan daerah terpencil.

Program pemberdayaan masyarakat pada bidang kesehatan kini telah banyak dikembangkan, baik oleh pemerintah maupun swasta terutama olek LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Pembangunan Indonesia Sehat 2010, yakni pengutamaan upaya-upaya promotif dan preventif. Pendekatan promosi kesehatan inovatif, berbasis trias epidemiologi dan proses psikologis komunikatif guna menyadarkan dan memotivasi masyarakat untuk mampu hidup sehat dan menghindari deritan disability serta ancaman kematian.

2. Tujuan Pemberdayaan Masyarakat

  1. Pemerdayaan bertujuan untuk meningkatkan kekuasaan orang-orang yang lemah atau tidak beruntung.
  2. Pemberdayaan adalah sebuah proses dengan mana orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam, berbagi pengontrolan atas, dan mempengaruhi terhadap, kejadian-kejadian serta lembaga-lembaga yang mempengaruhi kehidupannya. Pemberdayaan menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya.
  3. Pemberdayaan menunjuk pada usaha pengalokasian kembali kekuasaan melalui pengubahan struktur social.
  4. Pemberdayaan adalah suatu cara dengan  mana rakyat, organisasi, dan komunitas diarahkan agar mampu menguasai (atau berkuasa atas) kehidupannya.

3. Kelompok Lemah dan Ketidakberdayaan

Tujuan utama pemberdayaan adalah memperkuat kekuasaan masyarakat, khususnya kelompok lemah yang memiliki ketidakberdayaan, baik karena kondisi internal (misalnya persepsi mereka sendiri), maupun karena kondisi eksternal (misalnya ditindas oleh struktur social yang tidak adil). Guna melengkapi pemahaman mengenai pemberdayaan perlu diketahui konsep mengeni kelompok lemah dan ketidakberdayaan yang dialaminya.

Beberapa kelompok yang dapat dikategorikan sebagai kelompok lemah atau tidak berdaya meliputi:

  1. Kelompok lemah secara structural, baik lemah secara kelas, gender, maupun etnis.
  2. Kelompok lemah khusus, seperti manula, anak-anak dan remaja, penyandang cacat, gay dan lesbian, masyarakat terasing.
  3. Kelompok lemah secara personal, yakni mereka yang mengalami masalah pribadi dan/ atau keluarga.

Kelompok-kelompok tertentu yang mengalami diskriminasi dalam suatu masyarakat, seperti masyarakat kelas social ekonomi rendah, kelompok minoritas etnis, wanita, populasi lanjut usia, serta para penyandang cacat, adalah orang-orang yang mengalami ketidakberdayaan. Keadaan dan perilaku mereka yang berbeda dari keumuman kerapkali dipandang sebagai deviant (penyimpang). Mereka seringkali kurang dihargai dan bahkan dicap sebagai orang yang malas, lemah yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Padahal ketidakberdayaan mereka seringkali merupakan akibat dari adanya kekurangadilan dan diskriminasi dalam aspek-aspek kehidupan tertentu.

Ketidakberdayaan merupakan hasil dari pembentukan interaksi terus menerus antara individu dan lingkungannya yang meliputi kombinasi antara sikap penyalahan diri sendiri, perasaan yang tidak dipercaya, keterasingan dari sumber-sumber sosial dengan perasaan tidak mampu dalam perjuangan. Ketidakberdayaan dapat bersumber dari faktor internal maupun eksternal. ketidakberdayaan dapat berasal dari penilaian  diri yang negative, interaksi negative dengan lingkungan yang lebih besar.

4. Konsep Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment)

a. Konsep Masyarakat

Terdapat dua kelompok teori, yaitu :

a). Kelompok teori dengan perspektif sistem ekologi,

b). Kelompok teori dngan perspektif system social.

Pemberdayaan masyarakat telah menjadi arus utama dalam model pembangunan dibanyak Negara dan masyarakat. Berdasarkan telaah tentang model-model pembangunan yang dialami banyak negara termasuk Indonesia, terdapat 6 pendekatan utama pembangunan, yaitu pendekatan pertumbuhan, pendekatan pertumbuhan dan pmerataan, paradigma ketergantungan, tata ekonomi internasional baru, pendekatan kebutuhan pokok, dan pendekatan kemandirian.

Berbagai pendekatan pembangunan diatas, selain menunjukkan adanya hasil-hasil tertentu, tetapi ternyata juga masih ada keterbatasan. Apalagi bahwa jika ditelaah terdapat berbagai sumber keterbelakangan, yang tidak mudah untuk dinyatakan apakah factor tersebut sebagai hasil, sebagai penyebab,atau variable antara.

 

Meskipun demikian bisa dikatakan terdapat paling tidak enam sumber keterbelakangan masyarakat, yaitu :

1) Kebodohan

2) Kekakuan tradisi

3) Penduduk yang tidak terampil

4) Konsumtif

5) Tidak mampu alih teknologi/waralaba

6) Salah penempatan atau  penggunaan dibawah kemampuan.

Dalam negara yang sedang berkembang terdapat siklus keadaan yang merupakan suatu lingkaran yang tidak berujung yang menghambat perkembangan masyarakat secara keseluruhan. Secara sederhana lingkaran tersebut terdiri dari keadaan sosial ekonomi rendah yang mengakibatkan ketidakmampuan dan ketidaktahuan, yang secara otomatis mengakibatkan produktifitas juga ikut rendah. Dan selanjutnya juga membuat keadaan sosial ekonomi semakin rendah dan seterusnya.

Dalam masyarakat itu sendiri sebenarnya terdapat suatu dinamika yang membuat mereka mampu bertahan dalam keadaan yang sulit dan hal itu sebenarnya merupakan potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan taraf hidupnya. Sampai seberapa jauh potensi ini berkembang dapat terlihat dari keadaan perkembangan masyarakat itu sendiri. Pada masyarakat yang sudah berkembang maka hal ini menunjukkan bahwa mereka telah dapat memanfaatkan potensi yang mereka miliki, sedangkan pada masyarakat yang belum berkembang berarti mereka belum banyak memanfaatkan potensi yang mereka miliki.

 

 

  1. PEMELIHARAAN KESEHATAN PADA IBU

Program kesehatan yang terkait dalam meningkatkan status kesehatan ibu dan anak

  1. 1.        Pemeliharaan kesehatan pada remaja calon ibu

                          

Masa remaja ditinjau dari rentang kehidupan individu merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Sifat-sifat remaja sebagian besar sudah tidak menunjukkan sifat-sifat nasa kanak-kanaknya, tetapi belum juga menunjukkan sifat orang dewasa. Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara  11 hingga 20 tahun.

 

Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik yang cepat. Pertumbuhan fisik yang cepat pada tubuh remaja, luar dan dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikt terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta pribadi kepribadian remaja.  Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti  to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990).

 

Masa remaja pada usia 18 tahun merupakan masa yang matang, sebagai peralihan masa kanak-kanak ke masa dewasa.  Masa remaja mempunyai ciri sebagai berikut :

  1. Sebagia periode penting perubahan sikap perilaku
  2. Peride peralihan
  3. Periode perubahan
  4. Masa mencari identitas
  5. Usia bermasalah
  6. Usia yang menimbulkan kesulitan
  7. Masa yang tidak realistik
  8. Ambang masa dewasa

Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja

  1. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja  awal yang dikenal masa storm dan stress.
  2. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual.
  3. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain.
  4. Perubahn nilai, dimana apa yang mereka anggap  penting pada  masa kanak-kanak menjadi kurang sudah mendekati dewasa.
  5. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi.

Masalah-masalah yang dihadapi remaja dari yag bersifat fisik seperti anemia, maslah kegemukan, masalah mental, kejiwaan seperti gangguan belajar, masalah perilaku beresiko seperti merokok, hubungan seks pranikah hingga penyalah gunaan NAPZA dan terjangkit HIV/AIDS. Bila kita kaji lebih mendalam, maka periode remaja merupakan “window opportunity” periode waktu yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai, norma dan kebiasaan yang baik agar tidak mengalami maslah kesehatan dikemudian hari, dan menjadi manusia dewasa yang sehat dan produktif.

Pengetahuan yang harus dimiliki remaja tentang kesehatan reproduksi remaja antara lain tumbuh kembang remaja, kesehatan reproduksi remaja, IMS/ISR, HIV/AIDS, penyalahgunaan NAPZA, komunikasi dan konseling pendidikan keterampilan hidup sehat/PKHS.

Penyebab utama kematian pada perempuan atau remaja usia 15-19 tahun adalah komplikasi kehamilann, persalinan dan komplikasi keguguran. Penduduk muda usia 15-24 tahun menderita penyakit menulr seksual yang paling tinggi adalah komplikasi kehamilan, persalinan, abortus. Remaja usia 15-24 tahun menderita penyakit menular seksual sangat tinggi, termasuk HIV. Remaja merupakann transisi, pertumbuhan dan eksplorasi, sehingga apabila kurang mendaapat informasi tentang bagaimana cara melindungi kesehatan seksual mereka akan berakibat mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki (unwanted pregnancy), resiko kesehatan sehubungan dengan kehamilan usia remaja organ reproduksi, biologis dan psikologis belum matang, aborsi yang tidak aman, penyakit menular seksual dan HIV.

International conference on population and development (ICPD) pada tahun 1994, melakukan upaya untuk pengembangan program yang cocok untuk kebutuhann kesehatan reproduksi remaja, strategi kunci untuk menjangkau dan melayani generasi muda :

  1. Melakukan pengembangan layanan-layanan ramah bagi generasi muda
  2. Melibtakan generasi muda dalam perancangan, pelaksanaan dan evaluasi program
  3. Membentuk pelatihan bagi penyedia layanan untuk dapat melayani kebutuhan dan memperhatikan kekhawatiran khusus bagi para remaja
  4. Mendorong munculnya upaya-upaya advokasi masyarakat untuk mendukunng perkembangan remaja dan mendorong perilaku kesehatan yang positif
  5. Memudahkan latihan-latihan membangun keterampilan kedalam program-program yang ditujukan untuk remaja

Program-program yang dikembangkan bagi remaja dapat mendorong untuk pemberian  kesempatan bagi remaja untuk produktif secara sosial dan ekonomi. Jika hal ini dipadukan dengan adanya informasi dan pelayaanan kesehatan reproduksi akan memacu mereka untuk menunda aktifitas seksual remaja sehingga memberi dampak keputusan jangka panjang dalam merencanakan masa depan remaja. Remaja memerlukan pendidikan mengenai kesehatan reproduksi tentang seksualitas, kontrasepsi, aktifitas seksual, aborsi, penyakit menular seksual dan gender.

Beberapa masalah pokok dalam pengembangan kesehatan reproduksi remaja adalah :

  1. Melakukan advokasi untuk memperoleh dukungan masyarakat dalam kesehatan reproduksi
  2. Melibatkan remaja pada aktifitas yang positif
  3. Pelayanan kinik yang ramah bagi remaja
  4. Memberikn informasi yang ramah bagi para remaja
  5. Kontrasepsi untuk remaja
  6. HIV dan PMS bagi remaja
  7. Memenuhi kebutuhan remaja sesuai tingkatan usia
  8. Kehamilan dini dan kehamilan tidak diinginkan
  9. Pendidikan seksualitas berbasis sekolah
  10. Menegmbangkan keterampilan untuk menghadapi kehidupan

 

Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi bagi semua orang akan memberikan kontribusibesar terhadap pencapaian status kesehatan reproduksi masyarakat yang lebih baik. Dilain pihak, pelayanan kesehatan reproduksi belum menyentuh sebagian besar remaja sehingg status kesehatan reproduksi remaja relatif rendah. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan petugas kesehatan diharakan memahami permasalah-permasalahan kesehatan reproduksi remaja sehingga mempunyai kepedulian terhadap kesehatan reproduksi remaja (KRR).

 

Untuk mengatasi masalah kesehatan remaja diperlukan pendekatan yang adolescent friendly, baik dalam menyampaikan informasi pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR), yang diharapkan menyediakan pelayanan kesehatan sesuai dengan masalah dan memenuhi kebutuhan remaja.

 

Penyebaran informasi mengenai kesehatan remaja sangat diperlukan karena masalah kesehatan remaja belum cukup dipahami oleh berbagai pihak, maupun oleh remaja sendiri. Informasi ini sesungguhnya berguna untuk :

  1. Meningkatkan pemahaman berbagai pihak menegnai kesehatan remaja dan bagaimana berinteraksi dengan remaja.
  2. Menyiapkan remaja untuk menghadapi masalah kesehatan remaja dan mendorong remaja agar bersedia membantu teman sebayanya
  3. Membuka akses informasi dan pelayanan kesehatan remaja melalui sekolah maupun luar sekolah

 

  1. 2.        Perkawinan yang Sehat

 

Perkawinan adalah merupakan ikatan yang suci, yang dibangun dengan bertujuan untuk :

  1. Meneruskan keturunan atau melangsungkan reproduksi
  2. Membentuk generasi yang berkualitas
  3. Mencapai kebahagiaan
  4. Merupakan bagian dari ajaran agama
  5. Menjadi dasar untuk membentuk keluarga yang sehat

 

 

Perkawinan yang sehat memenuhi kriteria  umur calon pasangan suami isteri ketika akan melangsungkan perkawinan adalah memenuhi umur kurun waktu reproduksi sehat, yaitu umur 20-35 tahun, terutama untuk calon istri atau calon ibu, karena hal ini berkaitan dengan kesehatan reproduksi wanita. Secara biologis organ reproduksi sudah cukup matang apabila terjadi proses reproduksi obstetri, yaitu kehamilan, persalinan, nifas, menyusui. Secara psikologis pada kisaran umur tersebut. Wanita mempunyai kematangan mental yang cukup memadai untuk menjadi ibu dan dan membina perkawinan yang sehat, mampu menjadi interaksi dangan keluarga dan masyarakat. Secara sosial demografi pada kelompok umur tersebut, wanita karir, sehingga dapat menjadi salah satu modalitas membina perkawinan dalam aspek sosial, ekonomi. Perkawinan sehat memenuhi kaidah kesiapan pasangan suami istri dalam aspek biopsikososial, ekonomi dan spiritual. Perkawinan yang sehat juga didasari landasan agama sebagai dasar spiritual rumah tangga. Secara komprehensif perkawinan yang sehat akan membentuk kebahagiaan lahir dan batin.

 

  1. 3.        Keluarga sehat

 

Keluarga terdiri pasangan suami isteri yang sah dan anak. Hal ini merupakan penegertian dari keluarga inti (nueclear family). Adapun cakupan pengertian keluarga secara luas adalah keluarga terdiri dari pasangan suami istri yang sah, anak serta anggota keluarga yang lain yang tinggal didalam keluarga tersebut. Hal ini disebu juga keluarga dalam arti lebih luas atau extended family. Keluarga yang sehat tentunya harus dibentuk oleh individu-individu yang sehat dalam keluarga tersebut.

 

Dilihat dari aspek kesehatan reproduksi ada beberapa fase dalam keluarga.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Fase menunda atau mencegah kehamilan bagi pasangan suami isteri dengan usia kurang dari 20 tahun dianjurkan untuk menunda kehamilannya. Alasan menunda atau mencegah kehamilan adalah umur kurang dari 20  tahun adalah usia yang sebaiknya tidak mempunyai anak dahulu, karena organ reproduksi belum matang, sehingga resiko penyulit atau komplikasi terkait dengan kehamilan, persalinan dan nifas sangat tinggi.

 

  1. Fase menjarangkan kehamilan pada periode usia isteri antara 20-30 atau 35 tahun merupakan periode usia paling baik untuk hamil, melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan jarak antara kelahiran adalah 2-4 tahun

 

 

  1. Fase menghentikan atau mengakhiri kehamilan atau kesuburan adalah periode usia isteri diatas 35 tahun, sebaiknya mengakhiri kesuburan setelah mempunyai 2 orang anak, karena jika terjadi kehamilan, persalinan pada periode ini, ibu mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya komplikasi seperti obstetri, misalnya perdarahan, pre-eklampsi, eklampsi, persalinan lama, atonia uteri dan lain-lain. Pada usia yang lebih tua juga mempunyai resiko untuk terjadinya penyakit yang lain, misalnya penyakit jantung, tekanan darah tinggi, keganasan dan kelainan metabolik biasanya meningkat.

 

Keluarga yang sehat membentuk masyarakat dan bangsa yang sehat dan generasi penerus bangsa menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

 

  1. 4.        Sistem Reproduksi dan Masalahnya

 

Masalah kesehatan reproduksi mempunyai dampak yang sangat luas dan menyangkut berbagai aspek kehidupan, dan menjadi parameter kemampuan negara dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Sehingga kesehatan sistem reproduksi sangat erat kaitannya dengan angka kematian ibu dan anakk. Indonesia mempunyai angka kematian ibu tertinggi diantara negara-negara ASEAN. Hasil survey demografi kesehatan indonesia (SDKI) tahun 2003 anka kematian ibu berkisar 307/100.000 kelahiran hidup, tahun 2007 adalah berkisar 248/100.000 kelahiran hidup. Dilihat dari angka tersebut belum menunjukkan penurunan angka kematian ibu yang bermakna, atau dapat dikatakan masih sangat lamban. Kesehatan reproduksi merupakan kemampuan seorang wanita untuk memanfatkan alat reproduksi dan mengatur kesuburannya (fertilitas) dapat menjalani kehamilan dan persalinan secara aman serta dapat melahirkan bayi tanpa resiko dan komplikasi (well health mother and well born baby) dan selanjutnya mengembalikan kesehatan reproduksi dalam batas normal.

 

  1. 5.      Penykit yang berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan dan sebaliknya

 

Kondisi yang mempengaruhi kehamilan dibedakan menjadi 2 yaitu,

  1. Penyulit kehamilan yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin, merupakan penyulit yang terjadi hanya pada peristiwa kehamilan atau berhubungan kehamilan. Penyulit ini tidak akan terjadi pada wanita diluar kehamilan. Beberapa contoh penyulit yang berpengaruh terhadap kehamilan adalah hiperemesis gravidarum, kelaianan dalam waktu tenggang umur kehamilan, abortus, kehamilan pre term, ketubahn pecah dini, kehamilan ektopik, penyakit dan kelainan pada plasenta dan tali pusat, preeklampsia, eklampsia, perdarahan antepartum dan gemeli.

 

  1. Penyakit atau keadaan alat kandungan yang dapat mempengaruhi kehamilan. Beberapa penyakit mempunyai hubungan timbal balik terhadap peristiwa obsetrik kehamilan. Penyakit tersebut dapat memperberat kehamilan dan persalinan, demikian pula sebaliknya kehamilan dan persalinan dapat mempengaruhi atau mmemperberat penyakit pada ibu. Penyakit-penyakit  atau kelainan yang dapat mempengaruhi kehamilan, misalnya: kelainan alat reproduksi, kehamilan dengan penyakit jantung, hipertensi, penyakit paru-paru, penyakit infeksi, penyakit endokrin, dan penyakit jiwa dalam kehamilan.

Penyulit yang terjadi dalam persalinan adalah kelainan yang terdapat pada masing-masing faktor yang dpat diperinci sebagai berikut :

  1. Kelainan power, merupakan kelainan kekuatan his dan tenaga mengejan. Beberapa contoh keadaan diamna his mengedan adalah  inersia uteri, his yang tidak terkoordinasi, kelelahan ibu mengedan, salah pimpinan ibu kala II.

 

  1. Kelainan passage, kelainan jalan lahir

Contoh kelainan jalan lahir adalah kelainan bentuk panggul, kesempitan panggul, ketidakseimbangan sefalopelvik dan kelainan jalan lahir lunak.

 

  1. Kelainan passanger, kelainan isi dari kehamilan

Contoh kelainan passanger adalah kelainaGambarn bentuk dan besar janin, misalnya anensefalus, hidrosephalus, makrosomia janin, kelainan presentasi (presentasi puncak kepala, presentasi muka, posisio oksipito posterior), dan kelainan letak janin (letak sungsang, letak melintang, letak mengolak, presentasi rangkap).

 

  1. Masalah psikologis ibu. Terdapat lingkaran setan antara masalah psikologis ibu dengan his ibu bersalin. Ibu bersalin yang cemas, ketegangan meningkat, mempengaruhi kontraksi uterus, dapat terjadi his yang lemah atau jelek (inersia uteri), sehingga terjadi persalinan lama atau tidak maju.

 

  1. Tumor pada jalan lahir, dapat berupa: kelainan tulang pada jalan lahir, tumor yang berasal dari ovarium, dan tumor yang berasal dari vagina

 

 

  1. Penyulit pada kala III dan kalaIV persalinan berupa perdarahan postpartum, retensio plasenta, inversio uteri dan robekan jalan lahir

 

 

  1. 6.      Sikap dan Prilaku Pada Masa Kehamilan dan Persalinan

 

Sikap adalah perbuatan, perilaku, gerak-gerik yang berdasarkan pendirian, pendapat atau keyakinan. Pengukuran sikap dapt dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernytaan responden terhadap suatu objek. Sikap merupakan suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalm situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimulasi sosial yang telah terkondisikan. Sikap juga merupakan evaluasi umum yang dibuat mmanusia terhadap diri sendiri, orang lain, objek atau isu-isu. Sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi) dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek dilingkungan sekitarnya. Komponen kognitif berisi persepsi, kepercayaan dan stereotype yang dimiliki individu mengenai sesuatu.

 

Sikap ibu hamil merupakan faktor predisposisi terbentuknya perilaku didalam kehamilan dan persalinan. Sikap yang positif akan mendorong  perilaku pemeliharaan kesehatan ibu hamil dan persalinan yang positif pula. Sikap ibu hamil jug dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, misalnya pengaruh budaya, lingkungan, orang terdekat dan juga faktor internal pengetahuan dan sikap ibu hamil. Status emosional dan psikologis ibu turut menentukan sikap ibu hamil dan mempengaruhi keadaan yang timbul sebagai akibat atau diperburuk oleh kehamilan, sehingga dapat terjadi pergeseran yakni kehamilan sebagai proses fisiologis menjadi kehamilan patologis.

 

Sikap ibu hamil dan bersalin yang dipengaruhi oleh sosial budaya, kultur, dan lingkungan dikenal dengan mitos-mitos dalam kehamilan dan persalinan. Adakalanya mitos yang muncul bertentangan dengan konsep asuhan pada ibu hamil dan bersalin, ini merupakan mitos negatif yang merugikan atau membahayakan asuhan pada ibu hamil dan bersalin. Namun sebaliknya apabila mitos terkait denagn kehamilan dan persalinan tersebut menguntungkan dalam asuhan kebidanan ibu hamil dan bersalin, maka mitos tersebut dapat dilakukan oleh ibu. Mitos yang negatif atau membahayakan harus dihindari. Bidan harus melakukan upaya konseling pada ibu untuk memperbaiki sikap dan perilaku ibu. Beberapa mitos pada ibu hamil, contohnya: kenduri, mitoni, makan amis-amis, sawanen dan tidak boleh makan udang dll.

 

Beberpa contoh bentuk ibu hamil yang lain adalah mengenai tanggapan atau sikap ibu terhadap pentingnya pemeriksaan kehamilan bagi ibu, akan membentuk perilaku yang positife mengenai perilaku yang positife mengenai perilaku pemeriksaan antenatal. Sikap ibu hamil yang positife tentang tanda bahaya akan membentuk perilaku yang positife mengenai perilaku yang positife untuk mencegah terjadinya bahaya dalam kehamilan dan persalinan. Sikap yang positife tentang pentingnya tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan, akan membawa ibu pada perilaku yang positife untuk bersalin ditenaga kesehatan.

 

Peristiwa kehamilan adalah peristiwa fisiologis, namun proses alami tersebut dapat mengalami penyimpangan sampai berubah menjadi patologis.

Ada dua macam stressor, yaitu :

  1. Stressor internal,meliputi: kecemasan, ketegangan, ketakutan, penyakit, cacat, tidak percaya diri, perubahan penampilan, peran sebagai orang tua, sikap ibu terhadap kehamilan, taj=kut terhadap kehamilan persalinan, kehilangan pekerjaan.
  2. Stressor eksternal dapat berupa: status perkawinan, maladaptasi, relationship, kasih sayang,ndukungan mental, broken home.

 

  1. 7.      Pemeriksaan dan Pemeliharaan Kesehatan Bagi Ibu Hamil

 

Menurut SDKI tahun 1994 angka kematian ibu adalah 390/100.000 kelahiran hidup, pada SDKI tahun 2002/2003 angka kematian ibu adalah 307/100.000 kelahiran hidup, selanjutnya SDKI tahun 2007 angka kematian ibu adalah 248/100.000 kelahiran hidup. Namun penurunan AKI ini sangat lambat. Pada tahun 1990 WHO sudah meluncurkan strategi Making Pregnancy Sfer (MPS), salah satu program MPS adalah menempatkan safe motherfood sebagai prioritas utama dalam rencana pembangunan nasional maupun internasional. Sehingga salah satu upaya yang diselenggarakan untuk menurunkan AKI adalah melalui 4 pilar upaya safe motherfood, dengan intervesi yang dilakukan adalah:

  1. Mengurangi kemungkinan seorang perempuan menjadi hamil dengan upaya  keluarga berencana
  2. Mengrangi keungkinan seoarang perempuan hamil mengalami komplikasi obstetri dalam kehamilan dan memastikan bahwa komplikasi deteksi sedini mungkin serta ditangani secara memadai melalui pelayanan antenatal
  3. Persalinan yang bersih dan aman adalah memastikan bahwa semua penolong persalinan mempunyai pengetahuan, keteramplian dan alat untuk memberi pertolongan persalinan yang aman dan bersih, serta memberikan pelayan nifas bagi ibu dan bayi
  4. Mengurangi kemungkinan komlikasi persalinan yang berakhir dengan kematian atau kesakitan melalui pelayanan obstetri esensial dasar (PONED) dan pelayanan obstetri esensial komprehensif (PONEK)

Tujuan asuhan kehamilan (antenatall care) adalah:

  1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi
  2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi
  3. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan kebedahan
  4. Mempersiakan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin
  5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dengan ttrauma seminimal mungkin
  6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal

Kebijakan program kunjungan pemeriksaan kehamilan dilakukan paling sedikti 4 kali selama kehamilan, sesuai dengan anjuran WHO , yaitu :

  1. Satu kali pada trimester pertama
  2. Satu kali ppada trimester kedua
  3. Dua kali pada trimester ketiga

Pelayanan atau asuhan standar yang diberikan pada pemeriksaan kehamilan adalah 7T, yaitu:

  1. Timbang berat badan
  2. Ukur Tekanan darah
  3. Ukur Tinggi fundus uteri
  4. Pemeriksaan imunisasi TT lengkap
  5. Pemberian Tablet besi selama kehamilan
  6. Tes terhadap penyakit menular seksual
  7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan

 

Selama kehamilan mempunyai kemungkinan untuk dapat  berkembang menjadi masalah atau komplikasi, sehingga memerlukan pemantauan selama kehamilan. Asuhan pada ibu hamil secara keseluruhan meliputi aspek-aspek berikut ini, yaitu :

  1. Mengupayakan kehamilan yang sehat
  2. Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan penatalaksanaan awal serta rujukan jika diperlukan
  3. Mempersiapkan persalinan yang bersih dan aman
  4. Persiapan secara dini untuk melakukan rujukan, bila terjadi komplikasi

 

Pemberian tablet besi adalah sebesar 60 mg dan asam folat 500 mg adalah kebijakan program pelayanan antenatal dalam upaya untuk mencegah anemia dan untuk pertumbuhan otak bayi, sehingga mencegah kerusakan otak (neural tube). Sedangkan kebijakan imunisasi TT adalah dalam upaya pencegahan terjadinya  tetanus neonaturum.

 

  1. PELAYANAN KESEHATAN PADA ANAK

 

  1. 1.      Pelayanan Kesehatan Pada Bayi baru Lahir

 

Masa perinatal dan neonatal merupakan masa yang kritis bagi kehidupan bayi. Dua pertiga kematian bayi terjadi dalam waktu 4 minggu setelah persalinan, dan 60%  kematian bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari  setelah lahir. Dengan pemantauan melekat dan asuhan pada ibu dan bayi masa nifas dapat mencegah angka kematian bayi. Faktor-faktor yang menyebabkan kematian perinatal adalah :

  1. Perdarahan
  2. Hipertensi
  3. Infeksi
  4. Kelainan preterm atau bayi berat lahir rendah
  5. Asfiksia
  6. Hipotermi

Penanganan bayi baru lahir yang kurang baik dapat menyebabkan hipotermi, cold stress (stres dingin atau hipotermi sedang), yang selanjutnya dapat menyebabkan hipoksemi, hipoglikemi dan mengakibatkan kerusakan otak. Akibat selanjutnya adalah perdarahan otak, syok, dan keterlambatan tumbuh kembang.

Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir adalah :

  1. Membersihkan jalan nafas
  2. Memotong dan merawat tali pusat
  3. Mempertahankan suhu tubuh bayi
  4. Identifikasi yang cukup
  5. Pencegahan infeksi

 

  1. 2.      Pelayanan Kesehatan Anak Balita

 

Masa krisis proses tumbuh kembang anak adalah masa dibawah usia lima tahun (BALITA). Asuhan atau pelayanan kesehatan pada balita ditingkat masyarakat dilakukan melalui berbagai kegiatan, misalnya posyandu, stimulasi dini dan intervensi serta deteksi tumbuh kembang balita (SDIDTK), bina keluarga balita (BKB), kelompok peminat kesehatan ibu dan anak (KPKIA), pendidikan anak usia dini (PAUD), pembinaan anak pra sekolah (TK), pelayanan imunisasi, deteksi tumbuh kembang anak, pengobatan pada anak diberbagai tempat pelayanan misalnya puskesmas, klinik bersalin, balai kesehatan ibu dan anak, bidan praktek swasta, rumah bersalin serta rumah sakit. Kewenanagan bidan dalam asuhan pada balita sehat adalah memberikan imunisasi, konseling deteksi didi serta stimulasi tumbuh kembang balita.  Program asuhan untuk balita adalah berupa manajemen terpadu balita sakit untuk bidan.

 

Menurut Hurlock, tahapan-tahapan tumbuh kembang manusia pada fase awal adalah sebagai berikut :

  1. Tahap perinatal: masa yang dimulai sampai konsep akhir
  2. Tahap neonatal: masa yang dimulai dari bayi lahir sampai 2 minggu setelah kelahiran
  3. Tahap bayi: masa yang dimulai dari 2 minggu setelah kelahiran sampai 2 tahun
  4. Tahap anak awal: masa yang dimulai dari usia 2 tahun sampai 6 tahun

 

Tumbuh adalah bertambah besranya anak (aspek kuantitas), misalnya anak bertambah berat tinggi badanya, organ-organ tubuh bertambah besar dan berat. Kembang adalah bertambah pandainya anak, sebagai hasil proses pematangan organ-organ tubuh (aspek kualitas).

 

Beberapa ciri tumbuh  kembang adalah sebagai berikut :

  1. Tumbuh kembang adalah proses yang berkelanjutan sejak didala kandungan samapi dewasa, yang terjadi secara bersama-sama
  2. Tumbuh kembang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan
  3. Pola perkembangan anak adalah sama pada semua anak, tetapi kecepatannya berbeda antara ank satu dengan anak lainnya
  4. Arah perkembangan anak adalah dari atas ke bawah (cephalo-caudal).
  5. Contohnya: anak harus dapat menegakkan kepala dulu, sebelum dapat berjalan
  6. Aktifitas seluruh tubuh diganti dengan reaksi yang khas

Contohnya: bayo akan menggerakkan seluruh tubuhnya, tangan dan kakinya kalau melihat sesuatu yang menarik, tetapi pada anak yang lebih besar reaksinya hanya tertawa atau meriah benda tersebut.

 

 

 

Kebutuhan dasar anak balita yang diperlukan untuk tumbuh kembang adalah:

  1. Asuh

Anak memerlukan makanan bergizi, pemukiman yang layak, sedang, perawatan dasar antara lain imunisasi, pemberian ASI, penimbangan yang teratur, pengobatan kalau sakit dan sebagiannya. Imunisasi sangat penting bagi anak, karena akan memberikan perlindungan bagi anak terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan iminisasi. Lima imunisasi dasar lengkap, yaitu: imunisasi HB, BCG, polio, DPT dan campak. Selain imunisasi dasar ini juga terdapat berbagai imunisasi pengembangan, misalnya: imunisasi HIB, MMR, influenza, alergi dan sebagainya.

  1. Asih

Kasih sayang dari orang tuanya dan anggota keluarga lainnya akan menciptakan ikatan batin yang erat, yang sangat penting untuk tumbuh kembang anak dan pendidikan agama sedini mungkin.

  1. Asuh

Anak memerlukan stimulasi mental dini, misalnya melalui program BKB (Bina Keluarga Balita). Stimulasi mental ini penting untuk perkembanagn mental anak seperti kecerdasan, keterampilan, kemandirian, kreativitas, kepribadian, agama, moral, etika, produktifitas dan sebagainya.

                        Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak:

  1. Faktor bawaan

Faktor bawaan ini merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak

  1. Faktor lingkungan

Lingkungan yang baik akan memberikan optimalisasi potensi bawaan yang postif. Secara garis besarnya, faktor lingkungan dibagi menjadi:

1)      Lingkungan sebelum anak lahir (prenatal).

Faktor ini meliputi gizi ibu hamil, obat-obatan, penyakit ibu (infeksi TORCH), stres, posisi janin, gangguan hormon, dll

2)      Lingkungan pada saat sekitar anak lahir (perinatal).

Faktor ini meliputi: persalinan lama, persalinan macet, persalinan dengan pertolongan, misalnya: vakum ekstraksi, forep, seksio sesaria, persalinan dengan letak lintang, presentase bokong, presentasi kaki, asfiksia, ikterus neonatorum serta infeksi.

3)      Lingkungan setelah anak lahir (post-natal)

Faktor ini misalnya: gizi anak, penyakit-penyakit (infeksi), gangguan hormon, lingkungan rumah, kebersihan, stress, kasih sayang, stimulasi, stabilitas rumah tangga, adat istiadat dan rumah tangga.

 

   Pertumbuhan anak dapat dinilai dengan memantau berat badan (BB), tinggi badan (TB), lingkar kepala (LK), lingkar lengan atas (LILA), dan tebalnya lipatan kulit. BB paling mudah dikerjakan. Ukutan BB juga sangat peka terhadap adanya kelainan atau penyakit yang terjadi pada anak, terutama penyakit akut, misalnya: diare dan muntah.

                     Pertumbuhan anak dikatakan abaik apabila

  1. BB anak menunjukan kenaikan pada penimbangan setiap bulannya
  2. Beredoman pada KMS (Kartu Menuju Sehat)
  3. BB anak berada disekitar daerah warna hiaju pada KMS
  4. Arah grafik BB anak sesuai dengan arah kelengkungan garis pada KMS
  5. Berpedoman pada kalender tumbuh kembang balita, apabila BB anak balita didaerah warna hijau pada grafik pertumbuhan.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Rencana Operasional Promosi Kesehatan Ibu dan Anak ini merupakan salah satu bentuk integrasi promosi kesehatan dengan program kesehatan ibu dan anak. Diharapkan dengan adanya keterpaduan dan sinkronisasi program dapat meningkatkan pelayanan KIA dalam upaya mencapai indikator MDG’s.

 

Peningkatan pelayanan KIA harus dilaksanakan secara terpadu dan menyeluruh antara pusat, provinsi, kabupaten/kota dengan melibatkan kalangan swasta, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan guna memperoleh dukungan dan suasana yang kondusif serta peran aktif masyarakat agar dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak.

 

Untuk itu, Rencana Operasional Promosi Kesehatan Ibu dan Anak dijadikan acuan dalam pelaksanaan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat bagi program kesehatan Ibu dan anak tahun 2010-2014 di pusat, provinsi dan kabupaten/kota, dalam rangka pencapaian indikator Kesehatan Ibu dan anak.

 

  1. SARAN

 

Penulis sangat mengharapkan agar makalah ini dapat menjadi acuan dalam mempelajari tentang Advokasi, Kemitraan dan Pemberdayaan Masyarakat Untuk Mendukung Upaya-Upaya Kesehatan Ibu dan Anak.

 

Dan harapan penulis makalah ini tidak hanya berguna bagi penulis tetapi juga berguna bagi semua pembaca. Terakhir dari penulis walaupun makalah ini kurang sempurna penulis mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan di kemudian hari

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

      Notoadmodjo,Soekadjo Prof Dr.2008.Promosi Kesehatan Dan iLmu Perilaku;Rineka Cipta.Jakarta

      Puji Wahyuningsih, Heni.dkk. Hen.2009.Dasar-Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat Dalam Ilmu Kesehatan Masyarakat Dalam Kebidanan;Fitramaya,Jogjakarta.

      Iqbal Mubarak,Wahid.2012.Ilmu Kesehatan Masyarakat:Konsep dan Aplikasi Dalam Kebidanan;Salemba Medika,Jakarta

      Syafrudin,dkk.2009.Buku Ajar Ilmu Kesehatan Masyarakat Untuk Mahasiswa Kebidanan;CV.Trans Info Media, Jakarta.

      http://isnopugel.wordpress.com/2011/03/28/strategi-promosi-kesehatan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s